Sabtu, 24 Februari 2024

Breaking News

  • Kejari Jayawijaya Berhasil Eksekusi Terpidana Henry Kusnohardjo Perkara Korupsi Jaringan Listrik Kabel   ●   
  • Langkah SSDM Polri Pulihkan Psikologi Anggota Operasi Damai Cartenz   ●   
  • JAM-Pidum Menerima Pelimpahan Berkas Perkara (Tahap I) TPPU Atas Nama Tersangka ARPG   ●   
  • Tim Tabur Kejagung Berhasil Mengamankan DPO Perkara Korupsi Terpidana Syarif Abdullah   ●   
  • Subsatgas PAM Objek OMB-LK Lakukan Pengamanan di 15 PPK Se-Pekanbaru Pada Rapat Pleno Rekapitulasi   ●   
Aktivis HAM Kembali Minta Danpuspom TNI dan Kapolda Riau Segera Bertindak
Selasa 05 Desember 2023, 11:05 WIB
Foto: Korban Kekerasan Bencah Seratus

Jetsiber.com - TAPUNG - Dampak insiden penganiayaan oleh kelompok bersenjata api terhadap para nelayan di Dusun Bencah Seratus, Desa Kota Garo, Tapung Hilir, Kampar, 21 November 2023 silam, ternyata sangat dahsyat.


Untuk itulah, Advokat dan Aktivis HAM, Guntur Abdurrahman SH.,MH, kembali menghimbau Kapolda Riau dan Puspom TNI agar segera bertindak menyelesaikan kasus kekerasan yang diduga melibatkan oknum aparat ini.

Guntur meminta, jangan sampai masyarakat melihat bahwa aparat tumpul ketika berhadapan dengan korporasi atau oknum pengusaha kaya. Sementara,  abai terhadap nasib, kehidupan dan keamanan masyarakat kecil yang sangat butuh perlindungan.

"Negara dalam hal ini aparat harus hadir di tengah ketakutan warga untuk melindungi dan mengayomi mereka," tegas Guntur kepada pers di Jakarta.

Sri Wahyuni (25) hingga saat ini masih merasakan trauma tersebut. Hampir setiap malam tidak dapat tidur karena terbayang kejadian penganiayaan.

Menurutnya, dia bersama suami, Safrizal (34) dan anak, Indra (6), merasakan sendiri dan melihat kejadian penganiayaan yang dialami rekan kerjanya.

Mereka bersembunyi di dalam pondok dan menyaksikan pemukulan serta pembakaran pondok tetangganya.

Sri beserta suami dan anaknya melarikan diri ke arah anak sungai dan menyisir sekitar 50-100 meter dari tempat kejadian untuk menyelamatkan diri.

Psikolog, Dr. Sigit Nugroho, M.Psi, yang mendapingi korban, membenarkan, padiennya hingga saat ini mengalami tidak bisa tidur. Merasa ketakutan, bahkan tidak bisa ditinggalkan di rumah bila suaminya akan bekerja.

Sementara itu, pengacara korban, Ali Husin Nasution SH, mengeluhkan lambatnya kinerja penegak hukum dalam menangani kasus ini.

"Sampai saat ini baru satu orang korban saja yang diperiksa. Sedangkan saksi-saksi belum juga kunjung diminta keterangannya dan olah TKP juga tidak dilaksanakan,"katanya di Pekanbaru.

Ia berharap aparat kepolisian mampu menunjukkan keberpihakannya kepada rakyat. Harus segera menindaklanjuti kasus yang meresahkan dan mengganggu ketenteraman dan keamanan masyarakat ini.(***)




Editor : TR
Kategori : Bengkalis
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Redaksi JETSIBER.COM,
silakan kontak ke email: redaksi.jetsiber@gmail.com


Komentar Anda
Berita Terkait
 
 



Scroll to top