Rabu, 17 Juli 2024

Breaking News

  • Sambut HBA ke-64 dan HUT IAD ke-XXIV 2024, Kejati Riau dan IAD Riau Gelar Bakti Sosial   ●   
  • Team Direktorat Binmas Polda Riau Gencar Sosialisasi dan Kampanye Anti Narkoba   ●   
  • Kapuspenkum Dr. Harli Siregar Sambangi Dapur Redaksi Media TEMPO   ●   
  • JAM-Datun Membuka FGD Sejarah Kejaksaan Peringati Hari Bhakti Adhyaksa ke-64 2024   ●   
  • Jaksa Agung Mendukung Pembentukan Satgas Pengawasan Barang Tertentu Tata Niaga Impor   ●   
Ilmuwan Ingatkan Vaping Dapat Merusak Kekebalan Tubuh
Senin 18 September 2023, 01:14 WIB
Ilustrasi.jpg

Jetsiber.com-Jakarta-Sejumlah penelitian mengungkap bahaya rokok elektrik atau vape. Bahkan di beberapa negara seperti Inggris, Jerman, Prancis hingga Selandia Baru penggunaannya mulai dilarang.


Ilmuwan memperingatkan kerusakan sistem kekebalan tubuh atau imunitas sebagai dampak dari vaping. Para ilmuwan menyebut vaping mengurangi aktivitas neutrofil tanpa memperhatikan nikotin mungkin memiliki efek kesehatan jangka panjang.

Dalam beberapa tahun terakhir, vape telah menjadi alternatif rasa rokok. Kini, sebuah penelitian baru mengungkapkan bahwa menghirup uap dari rokok elektrik dapat menghambat sel-sel kekebalan tubuh untuk berfungsi secara normal.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di University of Birmingham, Inggris ini menganalisis efek paparan langsung uap yang mengandung nikotin dan bebas nikotin pada sel, atau dikenal sebagai neutrofil.

Menurut penelitian, dalam tubuh yang sehat, neutrofil biasanya melindungi paru-paru dengan melakukan perjalanan dari darah ke area yang berpotensi mengalami kerusakan sebelum melakukan sejumlah tugas pencegahan.

"Rokok elektrik terbukti memiliki dampak yang lebih rendah untuk membantu perokok berhenti merokok, tapi data kami menambah bukti terkini bahwa rokok elektrik tidak berbahaya dan menyoroti perlunya mendanai penelitian jangka panjang pada pengguna vape," terang Profesor ilmu pernapasan di Birmingham University, Dr. Scott, dikutip dari PMJ News, Sabtu (16/9/23).

Para peneliti menganalisis 40 sampel dari orang-orang yang belum pernah merokok atau menggunakan vape. Kemudian, mereka memberikan 40 isapan vape tanpa rasa pada neutrofil yang berasal dari darah, yang menurut penelitian sebelumnya merupakan paparan harian yang minimal.

Para ilmuwan menemukan bahwa meskipun sel-sel tersebut masih hidup setelah terpapar uap rokok elektrik dalam waktu singkat dan dalam tingkat rendah.

Kendati demikian, tidak lagi dapat bergerak secara efisien dan tidak dapat melakukan peran pertahanan seperti biasanya. Patut dicatat bahwa uap dari e-liquid tanpa nikotin memiliki kelemahan yang sama dengan uap dari e-liquid yang mengandung nikotin.

"Oleh karena itu, dampak uap rokok elektrik terhadap mobilitas mereka menjadi sangat memprihatinkan, dan jika hal ini terjadi pada tubuh, maka mereka yang rutin menggunakan rokok elektrik berisiko lebih besar terkena penyakit pernapasan,” jelas Profesor dalam Kedokteran Pernapasan di University of Birmingham, David Thickett.




Editor : TR
Kategori : Lifestyle
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Redaksi JETSIBER.COM,
silakan kontak ke email: redaksi.jetsiber@gmail.com


Komentar Anda
Berita Terkait
 
 


Scroll to top